Jumat, 25 Mei 2012 | By: Choliday_21

Cerpen Remaja “Dunia Baru, Teman Baru”


Sore yang hangat di kota hujan, Bogor. Matahari menyampaikan salam kehangatan dari sang pecipta melalui sinarnya. Titik-titik air masih berjatuhan dari dedaunan yang siang tadi mercumbu dengan derasnya hujan. Beberapa anai-anai pun mulai beterbangan mengendarai angin yang lembut menyapa hamparan bumi. Waktu yang tepat untuk menikmati ketenangan, berbisik dan bercanda dengan diri sendiri, itulah yang dilakukan oleh Asma sore itu. Dengan samar Melantunkan lagu dari balik bibirnya.., sesekali melirik mencuri pandang ke arah burung-burung yang bermain dihamparan halaman berumput tempat kosnya.


Kuliahnya telah memasuki tingkat 4 semester akhir, dengan nilai dan prestasi yang telah dia dapatkan kini nilai IPK cumlaude sangat mungkin diraihnya saat lulus nanti., namun hal itu bukanlah sesuatu yang terlalu dia pikirkan saat ini, mulai muncul prioritas lain dalam pikirnya. Mengusik dibalik usianya yang akan memasuki angka 24 tahun, dia benar-benar mulai berharap ada seseorang yang akan hadir dalam dunianya., dia mulai mengidamkan datangnya lamaran dari seorang laki-laki yang akan menjemputnya menuju pernikahan setelah lulus nanti. Sambil tersenyum dia merangkai angan itu memamerkan kesenangan khayalnya pada mentari yang mulai mengintip dari balik rimbunnya dedaunan.

Tiba-tiba Handphonenya berdering..,,. “zzzxzxzxzxZZZZZXXXXzzzzzz”. Tertulis di layar “Bapak - memanggil”. Dengan segera Asma menjawabnya.

Seperti biasa Asma begitu manja berbicara melalui telepon menunjukkan bahwa dia begitu rindu dengan Bapaknya.., beberapa candaan pun telah melayang terucap. Tiba-tiba Pak Irsan mengatakan suatu hal yang tak pernah Asma duga. Pak Irsan memberitahu Asma bahwa ada seorang laki-laki yang akan melamarnya di akhir bulan nanti. Gayung pun bersambut, khayalan yang baru saja dia layangkan seakan terjawab oleh-Nya. Mendengar ucapan dari bapaknya Asma menjadi malu untuk menjawab meskipun sebenarnya hatinya sedang mekar kegirangan. Akhirnya dengan malu-malu Asma berkata.

“Benarkah begitu Bapak.., Asma terkejut mendengar hal ini.., jujur Asma sebenarnya memang mengidamkan lamaran datang kepada Asma. Namun Asma harus tahu mengenai lelaki itu untuk memutuskan menerima atau menolak lamaran tersebut.., apakah bapak sudah mengenal dekat lelaki itu, apakah Asma juga mengenalnya..?”. tutur Asma.

“Lelaki itu bernama Tiar dan bapak sudah mengenal dia beserta keluarganya dengan baik. Mungkin kamu belum pernah bertemu dengannya namun bapak pikir dia seorang laki-laki yang istimewa untukmu, Asma”. Tegas Pak Irsan.

Asma tersenyum mendengar penjelasan dari bapaknya. Sejak saat itu Asma mulai melukiskan roman semu lelaki yang bernama Tiar dalam pikirannya. Dia begitu penasaran ingin segera bertemu dengan lelaki itu.

Akhirnya, seminggu kemudian Asma pulang ke sumenep. Dengan membawa bayang-bayang kesenangan dan rasa penasaran dengan lelaki yang akan melamarnya sebagai seorang istri. Pak Irsan membawa Asma ke rumah Pak Zainal yang merupakan orang tua Tiar. Pak Zainal merupakan teman Pak Irsan sebagai seorang guru.

Di rumah tiar Asma hanya terdiam menyembunyikan perasaan malu dan penasarannya saat itu, menunggu untuk segera bertemu dengan tiar yang memang belum pulang dari kantor tempat dia bekerja. Sementara Pak Zainal membuka percakapan dengan pak Irsan sembari bertanya pada Asma. Sesaat kemudian, seorang pemuda masuk rumah dengan memberi salam, seorang laki-laki dengan hem panjang dan membawa tas di tangannya. Semua manjawab salam dari pemuda itu, begitu pula Asma yang menaikkan pandangan ke arah wajah pemuda itu. “Subhanallah”. Hatinya berkata karena pemuda itu adalah seorang laki-laki yang dulu pernah bertemu dengannya di terminal bungurasih. Pemuda yang pernah menasihati Asma untuk menjaga dirinya dari pandangan lelaki hingga penampilannya berubah seperti saat ini. seorang laki-laki yang sempat mengusik jiwa Asma untuk selalu dekat dengannya. Lelaki yang dia idamkan.

Asma merasa malu ketika kemudian Pak Zainal berbicara tentang dirinya pada Tiar, berbicara dimana Asma kuliah serta prestasi-prestasi cemerlang yang diraih wanita rupawan ini hingga beliau mengatakan bahwa Asma adalah wanita yang dimaksudkan oleh Pak Zainal untuk menjadi Istri Tiar. Pandangan asma semakin merunduk menahan rasa malu yang telah mewarnai merah pipinya saat itu.

Sebulan kemudian secara mendadak Asma diminta pulang oleh Pak Irsan dengan memberitahukan bahwa Tiar akan segera melamarnya. Dengan hati berbunga Asma pun pulang.

“Bismillahirrohmanirrohim, maksud kedatangan saya kemari bersama keluarga ialah hendak melamar putri bapak Irsan yang bernama Asma... Dik Asma, Apakah engkau bersedia menerima lamaranku untuk menjadikanmu sebagai istriku..?”. dengan terpatah Tiar menyampaikan hajatnya.

Semua mata kini tertuju ke arah Asma yang masih seakan berpikir untuk menjawab lamaran dari Tiar.

“Sebelum saya putuskan, saya akan mengajukan beberapa persyaratan, dalam hal ini sebagai seorang wanita yang mendapat lamaran berhak untuk mengajukan beberapa persyaratan.., ada 1 permintaan Asma pada Mas Tiar, Asma ingin bila masa pertunangan ini tidak berlangsung lama.., artinya bila lamaran ini saya terima saya ingin Mas Tiar segera menikahi saya setelah saya lulus sebagai sarjana di IPB, itu saja Mas.., apakah Mas Tiar sanggup memenuhinya..?”. tangkas Asma.

“Baiklah, Insya Allah saya akan memenuhi permintaanmu”. Jawab Tiar.

“Terimakasih Mas, Bismillahirrohmanirrohim..., Asma menerima lamaran mas tiar untuk mempersunting Asma sebagai seorang istri nantinya”. Jawab Asma tersipu malu.

Seluruh keluarga berucap sukur, hamdalah pun terucap. Saat itu Asma belum tahu bahwa Tiar menyampaikan lamaran pada Asma bukan karena Tiar menyintainya namun lebih karena keterpaksaan oleh kondisi dan keinginan ayahnya. Sebuah lamaran yang terucap darinya hanyalah kebohongan pengucap yang menyembunyikan ungkapan hati.

8 bulan pun berlalu, benar saja Asma telah lulus sebagai sarjana dengan predikat cumlaude. Pernikahan Tiar dan Asma pun segera dilaksanakan. 12 Juni 2004, sore hari Tiar mengucapkan ijab qabul di rumah Asma.

“Ananda Bachtiar Qurniawan Bin Zainal Arifin. Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan anak kandung saya, Asma’ul Husna binti Irsan Iswandi dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 20 gram di bayar tunai..”.

“Saya terima nikah dan kawinnya Asma’ul Husna binti Irsan Iswandi dengan mas kawin tersebut tunai.”.

“Sahhh..sahhh..saahh”. Ucap para saksi sekaligus mengumumkan pada khalayak yang hadir.

“Alhamdulilah, Asma sudah menikah dan resmi menjadi istri mas Tiar, Kak”. Di dalam kamar Asma menunjukan kegirangannya sembari memeluk Ismi, kakaknya.
*Telah aku rasakan indahnya sebuah pernikahan, indahnya malam pengantin yang penuh cinta, ada hal yang terkadang masih membuat aku kaku karena setiap terbangun dari tidurku, seorang laki-laki berada satu ranjang denganku.., aku masih sering lupa bahwa Mas Tiar sekarang adalah Suamiku.., manis sekali aku rasakan pernikahan ini* - sebaris kalimat yang tertulis di buku diary Asma yang ia tulis beberapa hari setelah pernikahannya.

0 komentar:

Posting Komentar